Sah! Sah!
Seisi ruangan kemudian kompak mengucap kata “barokallah”. Indah mengucap syukur dari balik tirai tipis. Teman-temannya yang sejak awal menemaninya mengucapkan selamat kepada Indah. Dengan terdengarnya kata “sah”, mimpi Indah tentang rumah tangga bahagiapun resmi dimulai.
Indah kemudian diantar untuk bertemu lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Lelaki itu, meskipun sedikit gugup, namun ia tampak jauh lebih tampan dibanding biasanya. Untuk pertama kalinya Indah duduk sangat dekat dengan Dirga, lelaki tampan yang telah berani menghadap kedua orang tuanya sebulan yang lalu untuk meminangnya.
(sumber)
Betapa bahagianya Indah karena Allah telah memberinya seorang suami yang sangat baik, menghormati istri dan mau bekerja sama dalam membina rumah tangga. Setelah anak pertama mereka lahir, Dirga membantu Indah untuk mencuci pakaian si kecil. Kemudian anak kedua lahir, Dirga membantu memasak di dapur, karena keadaan Indah yang sangat lemah. Indah merasakan cinta yang sangatmelimpah dari suaminya.
Indah membalas suaminya dengan ketaatan yang berlipat-lipat. Ia selalu berusaha menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga sendiri sebagai ibu rumah tangga murni. Setiap akan keluar rumah Indah selalu meminta ijin dari suaminya.
“Indah, kurasakan cintaku padamu takkan berkurang sedikitpun, istriku yang cantik,” ucap Dirga pada suatu malam.
“Aku juga begitu, suamiku yang tampan,” sambil tersipu, Indah menyusupkan kepala ke pelukan suaminya.
Sekitar setahun kemudian, anak ketiga Indah dan Dirga lahir. Dengan suka cita Dirga memeluk anaknya. Kaluarga mereka semakin bahagia karena dihiasi lebih banyak anak. Setiap pulang kerja atau hari libur, Dirga selalu meluangkan waktu untuk keluarganya.
Kini Indah tak habis pikir terhadap suaminya. Bertahun-tahun Dirga berperan sebagai suami yang baik, tanpa cela sedikitpun. Namun seorang perempuan yang sedang duduk di hadapannya saat ini menunjukkan fakta yang berbeda. Beberapa bulan yang lalu Indah pernah melihat perempuan ini menggelayut mesra pada suaminya di sebuah taman. Di gendongan suaminya ada seorang anak berusia sekitas setahun. Berarti sudah lebih setahun suaminya memiliki wanita lain.
“Demi anak-anakku, aku mohon tinggalkan suamiku,” Indah berusaha menekan suaranya agar setenang mungkin. Suasana cafe memang sepi, namun dada Indah tetap mengguruh.
Perempuan itu tersenyum, lalu melipat tangan di atas meja.
“Aku tidak akan meninggalkan Dirga, Indah.”
Indah terkejut mendengar ucapan perempuan itu. Apalagi ia tahu nama Indah, tetapi Indah tidak tahu nama perempuan itu. Indah tidak melihat alasan mengapa suaminya bisa jatuh cinta kepada perempuan ini. Dari segi penampilan, Indah jelas lebih segala-galanya darinya. Mengapa suaminya bisa begitu rapi menyembunyikan pernikahan keduanya dengan seorang perempuan yang bahkan berbedakpun tidak. Aku jauh lebih cantik, pikir Indah.
“Kamu memang manis, Indah. Tetapi Dirga telah membagi hatinya untukku,” perempuan itu kemudian tersenyum puas.
Indah menggelengkan kepala. Apakah perempuan ini bisa menebak pikirannya. Inikah akhir dari mimpinya di hari suara “sah” itu terdengar? Gambaran rumah tangga bahagia di benak Indah perlahan-lahan memudar. Sekeping demi sekeping hatinya terburai. Luruh.
____________________
Jumlah : 446 kata