Jangan Monoton, Kata Si Abang

Februari 17th, 2012, posted in Fiksi, Kontes

Suatu sore yang indah, Neng duduk di ayunan yang ada di teras rumahnya. Tak jauh darinya, duduklah abangnya. Neng terkadang  suka berbincang-bincang dengan abangnya yang sudah banyak mengecap asam dan garam kehidupan.

Sore itu wajah Neng murung. Si Abang yang melihat pemandangan itu heran.

Ruang Hati

Februari 15th, 2012, posted in Fiksi

Gambar dari sini

Semangkuk soto Banjar sudah berpindah ke perutku. Kami baru saja merayakan promosi Mas Teguh di warung soto Banjar .

“Bunda, ayah ambil mobil dulu,” kemudian Mas teguh bergegas menuju mobil kami yang terparkir agak jauh.

“Iya, Yah,” perlahan aku menuntun Azzam menuju tepi jalan raya untuk menunggu ayahnya. Jilbabku melambai perlahan karena tertiup angin. Kugenggam erat tangan Azzam yang belum genap berusia 3 tahun.

Waktu Kota Samarinda belum menunjukkan pukul sepuluh malam, namun jalan ini sudah mulai sepi. Kupandangi bangunan di samping warung soto. Aku sangat mengenalinya, Paradise Club.

Ke Monas Yuk!

Februari 9th, 2012, posted in Uncategorized

Monas adalah singkatan dari Monumen Nasional. Monas merupakan sebuah bangunan yang membanggakan bagi bangsa Indonesia. Didirikan sejak tahun 1961, kini Monas sudah berusia lebih dari setengah abad. Bentuk kobaran api yang berlapis emas pada puncaknya, hingga kini masih mewakili semangat bangsa Indonesia yang menyala-nyala.

Salah Siapa?

Februari 2nd, 2012, posted in Kisah Sekitar

(sumber)

Seorang anak digendong masuk ke puskesmasku, pada suatu siang. Celana biru yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia adalah anak SMP. Setelah diletakkan di tempat tidur UGD, para petugas kemudian memulai tindakan yang diperlukan. Namun sayang sekali semua telah terlambat. Saat melalui pintu puskesmaspun telah terlihat sosok kaku anak itu.

[15HariNgeblogFF] Sah!

Januari 27th, 2012, posted in Fiksi

Sah! Sah!

Seisi ruangan kemudian kompak mengucap kata “barokallah”. Indah mengucap syukur dari balik tirai tipis. Teman-temannya yang sejak awal menemaninya mengucapkan selamat kepada Indah. Dengan terdengarnya kata “sah”, mimpi Indah tentang rumah tangga bahagiapun resmi dimulai.

Indah kemudian diantar untuk bertemu lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Lelaki itu, meskipun sedikit gugup, namun ia tampak jauh lebih tampan dibanding biasanya. Untuk pertama kalinya Indah duduk sangat dekat dengan Dirga, lelaki tampan yang telah berani menghadap kedua orang tuanya sebulan yang lalu untuk meminangnya.

(sumber)

Betapa bahagianya Indah karena Allah telah memberinya seorang suami yang sangat baik, menghormati istri dan mau bekerja sama dalam membina rumah tangga. Setelah anak pertama mereka lahir, Dirga membantu Indah untuk mencuci pakaian si kecil. Kemudian anak kedua lahir, Dirga membantu memasak di dapur, karena keadaan Indah  yang sangat lemah. Indah merasakan cinta yang sangatmelimpah dari suaminya.

Indah membalas suaminya dengan ketaatan yang berlipat-lipat. Ia selalu berusaha menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga sendiri sebagai ibu rumah tangga murni. Setiap akan keluar rumah Indah selalu meminta ijin dari suaminya.

“Indah, kurasakan cintaku padamu takkan berkurang sedikitpun, istriku yang cantik,” ucap Dirga pada suatu malam.

“Aku juga begitu, suamiku yang tampan,” sambil tersipu, Indah menyusupkan kepala ke pelukan suaminya.

Sekitar setahun kemudian, anak ketiga Indah dan Dirga lahir. Dengan suka cita Dirga memeluk anaknya. Kaluarga mereka semakin bahagia karena dihiasi lebih banyak anak. Setiap pulang kerja atau hari libur, Dirga selalu meluangkan waktu untuk keluarganya.

Kini Indah tak habis pikir terhadap suaminya. Bertahun-tahun Dirga berperan sebagai suami yang baik, tanpa cela sedikitpun. Namun seorang perempuan yang sedang duduk di hadapannya saat ini menunjukkan fakta yang berbeda. Beberapa bulan yang lalu Indah pernah melihat perempuan ini menggelayut mesra pada suaminya di sebuah taman. Di gendongan suaminya ada seorang anak berusia sekitas setahun. Berarti sudah lebih setahun suaminya memiliki wanita lain.

“Demi anak-anakku, aku mohon tinggalkan suamiku,” Indah berusaha menekan suaranya agar setenang mungkin. Suasana cafe memang sepi, namun dada Indah tetap mengguruh.

Perempuan itu tersenyum, lalu melipat tangan di atas meja.

“Aku tidak akan meninggalkan Dirga, Indah.”

Indah terkejut mendengar ucapan perempuan itu. Apalagi ia tahu nama Indah, tetapi Indah tidak tahu nama perempuan itu. Indah tidak melihat alasan mengapa suaminya bisa jatuh cinta kepada perempuan ini. Dari segi penampilan, Indah jelas lebih segala-galanya darinya. Mengapa suaminya bisa begitu rapi menyembunyikan pernikahan keduanya dengan seorang perempuan yang bahkan berbedakpun tidak. Aku jauh lebih cantik, pikir Indah.

“Kamu memang manis, Indah. Tetapi Dirga telah membagi hatinya untukku,”  perempuan itu kemudian tersenyum puas.

Indah menggelengkan kepala. Apakah perempuan ini bisa menebak pikirannya. Inikah akhir dari mimpinya di hari suara “sah” itu terdengar? Gambaran rumah tangga bahagia di benak Indah perlahan-lahan memudar. Sekeping demi sekeping hatinya terburai. Luruh.

____________________

Jumlah : 446 kata

Kue Tart Terindah

Januari 25th, 2012, posted in unforgetable moments

Aku tidak paham, mengapa momen ulang tahun selalu diidentikkan dengan kue tart. Beberapa kali juga aku pernah membuat kue tart untuk acara ulang tahun sepupuku, atas permintaan tanteku. Buatanku sebenarnya tidak spesial, namun aku selalu berusaha membuat yang terbaik yang aku bisa. Meskipun krimnya tampak gagal, namun hiasan pernak-pernik yang lain mampu mengalihkan perhatian.

[15HariNgeblogFF] Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

Januari 25th, 2012, posted in Fiksi

“Lega!” Teriak Si Odol yang akhirnya tak lagi terkurung dalam kotak sempit dan gelap. Kini ia berpindah ke tempat yang sangat manis, sebuah mug keramik berwarna putih.

Si Odol terkejut, karena ia bersenggolan dengan sebuah sikat gigi cantik. Warna tangkainya merah muda. Yang membuatnya sangat cantik adalah bulu-bulunya yang tampak berbeda. Di ujung bulunya ada tambahan bulu-bulu yang halus dan lembut.

[15HariNgeblogFF] Merindukanmu Itu Seru

Januari 24th, 2012, posted in Fiksi

“Apa sih isi emailmu itu, Ga? Aku nggak ngerti artinya. Kok pake Bahasa Inggris?”

“Kalau tidak mengerti artinya, pakai google translator kan bisa,” aku kesal pada Dira. Selalu saja ia tak berhasil membaca emailku. Aku terdiam dengan gerutuan dalam hati.

Untuk kesekian kalinya aku menggirim email kepada Dira, untuk menyampaikan padanya beberapa kalimat penting, namun aku tak memiliki keberanian untuk menyampaikannya secara langsung.

[15HariNgeblogFF] Senyum Untukmu yang Lucu

Januari 22nd, 2012, posted in Fiksi

Nada MIDI lagu ‘Feel’-nya Robin Williams terdengar dari ponselku, menandakan sebuah pesan singkat masuk. Dari Reza.

Kutunggu kamu di jendela itu :D

Ah, sebuah undangan dari Reza agar aku menjumpainya di jendela itu. Kadang aku yang mengundangnya melalui pesan singkat.

[#15HariNgeblogFF] Inilah Aku Tanpamu

Januari 20th, 2012, posted in Fiksi

“Hei, jauh-jauh dong. Kamu bau!” Anna mengernyit sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.

“Biarin!” Aku kemudian menjauhinya.

Bila mengingat ucapan Anna, hatiku merasa sakit. Memangnya aku kambing? Huh! Padahal kami sudah berteman sejak SMA. Hingga kami kuliah di jurusan yang sama, ia masih saja berkata kasar padaku.