Prompt #17: Soemar Bakri

17 Jun 2013

Soemardi memacu sepeda motor meninggalkan rumahnya. Awan hitam karbon monoksida berhamburan dari knalpot tua itu. Hari ini adalah penentuan baginya. Surat panggilan dari Balai Kota yang diterimanya kemarin, membuat ia dan istrinya berbunga-bunga.

“Alhamdulillah,” ucap Tutik, istri Soemardi. “Akhirnya, setelah belasan tahun mengabdi ya, Pak.”

“Yang penting selalu ikhlas dalam mengajar, Bu,” sahut Soemardi.

“Nanti kita bisa ngambil cicilan rumah, Pak,” khayal Tutik semalam, diiringi oleh derai tawa Soemardi.

Di sepanjang jalan, senyum Soemardi tak henti-hentinya mengembang di balik kaca helmnya. Setelah statusnya berubah, maka ia akan mendapat hak yang sama seperti rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu menjadi pegawai negeri.

Sambil bersenandung, langkah Soemardi ringan menapaki setiap anak tangga menuju lantai 3 gedung Balai Kota. Itu adalah kali pertamanya memasuki gedung megah itu. Ia hanya berbekal informasi dari rekannya yang sudah pernah ke bagian kepegawaian yang ada di lantai 3.

*****

Tanpa menoleh, Soemardi bergegas meninggalkan bagian kepegawaian. Sepuluh Juta? Mimpi!

“Usia Bapak sudah melewati batas pengangkatan sebagai pegawai negri, Pak.” Soemardi teringat kalimat salah satu pegawai yang diucapkan seraya berbisik. “Tetapi kami sudah usahakan, sehingga SK Bapak bisa gol.”

Soemardi ingin segera bertemu Tutik, dan menyampaikan bahwa impian istrinya itu harus ditunda dulu.


TAGS flashfiction Monday Flash Fiction


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post