Apakah Kamu pakai Pembalut?

3 Sep 2013

(sungguh, ini bukan iklan)

Apakah kamu pakai pembalut (sintetis)? Tentu pertanyaan ini kutujukan khusus buat yang berjenis kelamin perempuan, yang setiap bulannya langganan dapet. Pertanyaan ini menggelitikku, membuatku bertanya-tanya, apakah para perempuan ini memakai pembalut setiap kali mendapatkan haid? Gara-garanya adalah kejadian beberapa waktu yang lalu.

“Mbak, tolong lihatin ya. Tembus gak?” tanya seorang temanku sambil berbisik beberapa hari yang lalu. Ia lalu berbalik dan menunjukkan bagian belakang roknya padaku.

Aku terkejut saat melihat noda berwarna gelap kemerahan pada roknya yang berwarna hijau. “Iya, tembus tuh! Sana, buruan ganti,” ucapku.

Dia menggeleng sambil tersenyum. “Aku gak pake pembalut, Mbak.”

“Heh? Lalu pakai apa?”

“Aku pake kain, Mbak.”

Aku ber-o panjang sambil mengangguk. Lalu saat pulang, ia mengikatkan jaket di sekeliling pinggangnya untuk menutupi bagian belakang roknya. Ah, aku jadi teringat masa-masa sekolah dulu. Aku dan teman-teman juga sering mengalami hal seperti ini.

Di masa sekarang ini memang masih banyak perempuan yang mempertahankan penggunaan kain untuk haid, seperti masa-masa dulu sebelum ditemukannya pembalut. Kain yang dimaksud bukanlah pembalut kain modern yang bisa dicuci ulang, namun kain biasa, mungkin terbuat dari bahan-bahan sisa, atau dari potongan handuk. Aku merasa salut terhadap mereka, mengingat orang yang hidup di masa kini lebih modern dan mobilitasnya tinggi, yang biasanya inginnya yang praktis-praktis saja. :D

Saat aku pertama kali mendapatkan haid dulu, usiaku 11 tahun. Emak mengajarkan untuk menggunakan kain yang khusus kupakai untuk masa haidku. Setiap kali ganti, kain itu harus kucuci hingga bersih, lalu dijemur di tempat terpisah. Ember yang digunakan juga harus terpisah, tidak boleh digunakan untuk keperluan lain, mengingat kain itu adalah bekas darah haid. Setelah beberapa lama, aku kemudian beralih ke pembalut, hingga sekarang.

Setelah kupikir-pikir, perempuan yang tetap memilih untuk memakai kain sebagai penampung darah di kala haid, mereka adalah orang-orang yang keren. Karena tanpa mereka sadari, mereka telah menghemat sampah, dan pengeluaran juga. Kain bisa digunakan secara berulang, sedangkan pembalut tidak. Kucoba menghitung-hitung pembalut yang kugunakan setiap bulannya, ternyata lumayan banyak jumlahnya. Bila misalnya ada banyak perempuan di kotaku yang sama denganku, maka sampah pembalut saja bisa memenuhi tempat pembuangan akhir (TPA).

Banyaknya perempuan yang kembali menggunakan kain kala haid, adalah demi alasan kesehatan. Banyak informasi yang beredar yang mengatakan bahwa pembalut sintetis yang ada di masa sekarang ini kurang baik untuk kesehatan. Untuk diriku pribadi, aku masih belum bisa meninggalkan penggunaan pembalut sintetis, karena kepraktisan menjadi alasan utama, dengan tetap memperhatikan kebersihan. Terlebih lagi, teknologi pembalut yang ada sekarang menolong perempuan agar terhindar dari rasa malu kala ‘tembus’ dan lebih nyaman dikenakan saat beraktifitas.

Nah, pembalut apa yang kamu pakai? ;)




TAGS pembalut perempuan haid menstruasi #30HariNonStopNgeblog


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post