(Bukan) Branded

5 Sep 2013

Di tengah hiruk-pikuk Pasar Pagi Samarinda, perlahan aku mendekat ke lapak tas KW-KW yang murah meriah. Kulihat banyak tas keluaran terbaru dengan merek yang sedang ngetren saat ini. Model tasnya menurutku keren, pas untuk dipakai kerja maupun santai. Ciri khas tas ini adalah bahannya yang kokoh dan mereknya yang hanya terdiri dari 4 huruf itu tercetak embossed. Sebenarnya aku bukan penggemar barang KW-KW, namun karena aku kepincut dengan modelnya, jadi aku tertarik untuk membelinya.

Saat aku sibuk memilih, tiba-tiba aku mendengar pembicaraan 2 orang perempuan yang berdiri tak jauh dariku. Mereka juga sedang memilih-milih tas.

“Eh, yang ini cakep ya,” ujar si baju pink sambil memegang sebuah tas berwarna krem.

“Iya, ini bagus. Gak ada mereknya,” sahut si baju kuning.

“He-eh. Kalo ada mereknya itu ketahuan banget KW-KW. Males banget…”

Entah siapa pencetusnya, istilah KW menjadi sangat populer akhir-akhir ini di Indonesia. KW (baca: kawe) artinya kualitas. Biasanya barang-barang tiruan dari barang mahal yang bermerek (branded), diberi keterangan KW super, semi super, KW 1, KW 2 dst, untuk menjelaskan tingkat kualitas dari barang tiruan tersebut. Barang-barang tersebut bisa apa saja, misalnya tas, pakaian, jam tangan, sepatu, dll. Harganyapun menyesuaikan dengan tingkat kualitasnya. Bagi sebagian orang, karena tak mampu membeli barang asli yang harganya sangat mahal, jadinya barang KW menjadi pilihan.

Kedua perempuan itu lalu membayar tas yang mereka beli. Sepintas aku melirik tas yang mereka pilih. Memang tidak terdapat emblem atau emboss merek apapun, polos. Aku jadi membandingkan dengan tas yang kupegang. Perlahan aku melepas tas itu dan batal membelinya. Lalu aku melenggang meninggalkan lapak tas itu.

Aku merenung, rupanya tidak semua perempuan menyukai barang KW-KW. Sepertinya kini sudah mulai merebak pandangan yang (agak) negatif mengenai orang yang gemar menggunakan barang KW tersebut. Memang banyak orang yang gemar berburu barang bermerek yang tiada lain adalah barang tiruannya dengan harga yang jauh lebih murah dibanding barang aslinya, yang kadang mencapai ratusan juta rupiah. Sedangkan harga barang versi KW-KW, ada yang beberapa puluh ribu rupiah, hingga jutaan rupiah. Sampai-sampai ada yang rela membeli dengan cara mencicil setiap bulannya. Lalu mereka menenteng tas tersebut keliling kota dengan rasa bangga bahwa telah menggunakan barang bermerek, padahal cuma barang KW sekian.

Aku teringat pula ada sepupuku yang suka membeli tas tanpa merek. ia lebih memilih fungsi dari sebuah barang daripada memamerkan mereknya. Bila dipikir-pikir, seseorang tidak serta-merta menjadi keren saat memakai barang KW-KW tersebut, bukan? Lagi pula orang lain tidak akan pernah tahu apakah barang yang ia pakai merupakan barang original yang dibeli di butiknya langsung. Mungkin karena produk KW yang kini semakin menjamur, membuat orang berpikir, “Ah, palingan yang dipakainya itu KW 1.” :D

Dari pada sibuk berburu barang (tas) KW-KW, lebih baik memilih barang-barang yang tidak bermerek. Karena kini sudah semakin banyak yang menjual barang-barang tanpa merek, namun tetap dengan kualitas bagus dan harga terjangkau. Akhirnya aku menemukan tas di lapak tas yang lainnya, namun dengan mengikuti pendapat kedua perempuan itu, yaitu tanpa merek. Harganyapun lumayan, hanya Rp 60.000. ;)

Tas murah meriah untuk kerja

Tas murah meriah tanpa merek, lumayan buat kerja :D


TAGS #30HariNonStopNgeblog tas KW barang tiruan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post