Ketika Kontroversi Menjadi Konsumsi, Pantaskah Tertawa?

12 Sep 2013

Bila ada yang bertanya, tren apa yang sedang berlaku di Indonesia saat ini, sepertinya akan banyak yang menjawab “Vickinisasi”. Tren tersebut berawal dari sebuah video wawancara yang dianggap kocak dan telah ditonton oleh ribuan orang. Lelaki yang ada dalam video itu dianggap telah berlagak pintar, karena menggunakan istilah-istilah yang tidak tepat dalam wawancara tersebut. Tak ayal lagi, bak kucing yang diberi ikan, masyarakat langsung menyambar lelucon tersebut. Aktor pada video wawancara itu menjadi bulan-bulanan pengguna jejaring sosial, sehingga istilah “Vickinisasi” menjadi semakin populer.

Tak dipungkiri bahwa situs-situs jejaring sosial memiliki peranan yang begitu kuat untuk menyebarkan “Vickiisme”-sebuah istilah lain yang juga berkaitan. Berkali-kali video wawancara tersebut di-share, lalu ditanggapi dengan berbagai komentar. Ada yang berupa tawa, canda namun ada juga berupa ejekan dan pandangan merendahkan. Lalu sebagian ada pula yang lebih kreatif dengan sengaja menambahkan akhiran -isasi pada kata-kata yang diucapkannya, dan kemudian menjadi bahan guyonan di berbagai kalangan. Semakin lebay susunan kata yang digunakan, maka akan dianggap semakin lucu dan semakin banyak yang tertawa.

Apakah Sahabat sekalian pernah menyaksikan wawancara tersebut? Atau kutipan-kutipannya di situs jejaring sosial? Aku belum pernah memperhatikan wawancara tersebut, namun saat pertama kali melihat kutipan-kutipan kalimat yang terlah membuat heboh itu, aku tertawa. Ya, aku tertawa karena istilah-istilah tersebut terdengar lucu di telingaku dan belum pernah ada sebelumnya. Namun usai tawa itu aku kemudian merenung.

Pantaskah kita tertawa?

Saat menonton tayangan komedi, kita wajar untuk tertawa, karena tayangan itu ditujukan untuk menghibur para penonton. Lalu saat menonton wawancara itu kita tertawa, karena kita merasa wawancara itu lucu, sehingga kita merasa pantas untuk tertawa. Namun, sadarkah kita, akan makna di balik tawa itu? Saat kita menertawakan sebuah kontroversi yang sering terjadi di negara ini, apakah itu menjadi sesuatu yang layak kita konsumsi? Bila tak berhati-hati, makna tawa kita bisa jadi merupakan pandangan meremehkan terhadap orang lain. Kita mengangap orang lain lebih rendah atau lebih bodoh dibanding kita. Apakah benar ia lebih bodoh dari kita? Atau bukan sebaliknya?

Mari kita bersikap bijaksana. Anggap saja kontroversi yang tengah beredar itu akibat dari kekhilafan. Menurutku, tidak pantas kita tertawa atas kekhilafan orang lain. Mari kita pikir bagaimana bila kejadian itu menimpa kita atau keluarga kita? Tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan, bukan?

Masih ingin menertawakan kontroversi yang terlanjur menjadi konsumsi? Pikir-pikir lagi ya… ;)


TAGS #30HariNonStopNgeblog kontroversi wawancara televisi


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post