Prompt #29: 27 Maret

12 Oct 2013

Lelaki tua itu memandangi rak buku bagian politik. Dia masuk sesaat setelah pintu toko baru kubuka, dan sudah lebih dari satu jam dia berdiri di sana. Posisinya menghalangiku untuk membersihkan debu pada rak itu.

Aku kembali ke meja kasir. Tanganku menyentuh kalender meja yang menunjukkan tanggal hari ini, 27 Maret 2011, hari Minggu pertama sejak bosku memutuskan untuk tetap membuka toko buku di hari bertanggal merah itu.

Brukk!

Setumpuk buku ditaruh di depanku.

“Ini … semua, Pak?” tanyaku.

“Iya,” sahutnya singkat.

Tak kurang dari lima judul buku dengan masing-masing judul terdiri dari beberapa buku. Satu persatu aku memindai barcode buku itu.

“Saya tidak mau negara ini dibodohi oleh masa lalu!” ucap lelaki itu tiba-tiba. Suaranya memenuhi seisi toko. “Saya akan membagi-bagikan buku ini, supaya orang-orang tahu bahwa Supersemar itu bohong belaka!”

Kuperhatikan lagi judul-judul buku yang baru kupindai. Memang, buku yang dibeli lelaki itu berisi kisah tentang Supersemar.

Usai membayar, lelaki itu melangkah keluar dengan menenteng sebuah kantong plastik.

“Terima kasih. Datang kembali ya …!” seruku sambil melongok dan mendapati pintu yang telah tertutup.

Tiba-tiba pintu terkuak dan sebuah wajah dengan rambut beruban muncul. “Ya, saya pasti akan kembali lagi, Nona,” ucapnya sebelum lenyap kembali di balik pintu.

*****

Pandanganku menyisir rak buku usang. Senang rasanya aku akhirnya bisa memiliki toko buku ini, setelah dijual cukup murah karena kebangkrutan mantan bosku.

Lonceng kecil di pintu berbunyi. Pelanggan pertamaku datang. Ternyata lelaki tua itu lagi. Lelaki yang beberapa tahun yang lalu pernah datang ke toko ini. Tanpa memandangku, dia langsung beringsut ke rak politik.

“Kau tahu, mengapa saya membeli buku-buku ini?” tanya lelaki itu sambil meletakkan seraupan buku dengan topik yang sama, Supersemar.

Aku menggeleng sambil menatap meja kasirku yang penuh.

“Karena Supersemar itu adalah kebohongan. Surat Perintah Sebelas Maret itu tidak benar adanya!” serunya.

“La … lalu yang benar bagaimana, Pak?” Aku memberanikan diri bertanya.

“Yang benar adalah adanya surat perintah dua puluh tujuh Maret!” Suaranya meninggi.

Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang lelaki muda masuk dan mendekati lelaki tua itu.

“Paman, sebaiknya kita pulang. Paman butuh istirahat.” Lelaki muda itu menuntun lelaki tua keluar. Tak lama kemudian ia masuk lagi, sendiri.

“Maafkan paman saya. Beliau melakukan ini karena sekarang adalah hari Minggu, tanggal 27 Maret,” ucapnya.

Aku melirik kalender merah hari ini, 27 Maret 2016.

“Paman saya dulu bekerja di Istana Kepresidenan,” jelas lelaki itu. “Beliau adalah pengetik naskah Supersemar. Saat beliau akan menikah pada Hari Minggu tanggal 27 Maret 1966, beliau diculik -entah oleh siapa- dan dipenjara selama puluhan tahun. Kasihan … jiwa beliau jadi tertekan.”

Lelaki muda itu lalu melanjutkan, “Sejak runtuhnya orde baru, setiap tanggal 27 Maret yang bertepatan dengan hari Minggu, beliau selalu pergi ke toko buku yang buka dan memborong semua buku tentang bantahan terhadap Supersemar.

“Jadi, kemungkinan besar, Anda akan bertemu beliau lagi, kalau tidak salah tanggal 27 Maret 2022. Tentu saja bila toko buku ini masih berdiri, dan bila paman saya masih hidup,” ucapnya sambil tersenyum dan meninggalkan tokoku.

Aku berharap setiap hari adalah tanggal 27 Maret. Supaya bukuku terus diborong.


Catatan: Cerita di atas adalah murni fiksi belaka.

*Ditulis untuk MondayFlashFiction


TAGS flashfiction Monday Flash Fiction


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post