[Pesta FlashFiction] 25 Januari

25 Jan 2014

“Dua puluh lima Januari?”

“Iya.”

“Berarti minggu depan ya?” Bimo menatap lekat sebuah undangan berwarna merah jambu. “Hmm … bisa nggak ya ….”

“Kamu harus datang, Bim.”

“Iya, iya. Aku akan usahakan datang dan berdoa yang terbaik untuk calon mempelai.”

“Ajak Tina juga.”

“Pasti dong, Frisa. Kalau pergi kondangan tanpa istri, apa kata dunia.”

“Tumben banget. Biasanya istri disimpan di rumah saja.”

“Bukan begitu. Istriku itu orang rumahan banget. Biasanya dia merasa kurang nyaman di keramaian. Tapi, demi hajatan sahabatku tersayang ini, aku akan merayu istriku agar mau datang.”

“Gitu, dong. Awas ya kalau kamu nggak datang. Aku nggak mau kenal kamu lagi!”

“Haha … iya, iya, Frisa. Aku pasti datang.”

*****

Dua puluh lima Januari itu rumah Frisa sudah ramai dihadiri para undangan.

“Frisa, kenapa kamu nggak bilang?!” Bimo melototi Frisa yang baru dirias di kamarnya.

“Kamu bantu temanmu ini, boleh kan?”

“Kasihan Tina, kalau bengong sendirian.”

“Kan nggak lama, Bim. Aku yakin Tina bisa ngerti kok. Please ….”

“Iya deh. Demi kamu,” ucap Bimo. Sebelum keluar kamar, dia mengambil kamera digital di atas meja rias Frisa. Tugas sebagai tukang foto telah menantinya.

Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama

Happy Birthday Monday FlashFiction


TAGS flashfiction pesta ultah pertama Monday Flash Fiction


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post