Prompt #37: Air Mata Peri

6 Feb 2014

“Ini adalah penemuan besar yang dapat bermanfaat bagi umat manusia. Sekian dan terima kasih.”

Auditorium itu dipenuhi gemuruh tepuk tangan. Seluruh hadirin berdiri memberi penghormatan pada Joko.

“Bagaimana cara Bapak melakukannya?”

“Sudah saya paparkan saat presentasi dalam gedung tadi,” dengan senyuman Joko menatap para wartawan yang mengerubunginya.

“Bapak yakin tak melakukan hal yang menyakitkan untuk mendapatkan bahan baku? Manusia saja terkadang harus disakiti baru bisa menangis.”

“Seratus persen cara yang saya lakukan sangat ilmiah.”

“Benarkah air mata peri bisa menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan AIDS?”

“Bahkan AIDS! Saya sudah melakukan riset selama bertahun-tahun.”

“Bagaimana dengan harga? Apakah air mata peri ini akan dijual dengan mahal?”

“Menurut saya harganya sesuai dengan khasiatnya. Produksinya juga tidak mudah. Baiklah, saya permisi.”

“Tetapi, Pak ….”

“Bagaimana de ….”

Joko melambai sambil tersenyum dan mengabaikan pertanyaan para wartawan. Bergegas ia melangkah ke dalam mobil dan memacunya pulang.

“Maaf, aku tidak bisa menemani presentasimu tadi, Sayang.” Minah membantu melepaskan jas Joko. “Tetapi aku melihat video streaming-nya. Kamu sangat keren, Sayang.”

“Tentu saja suamimu ini keren. Bagaimana dengan para peri kita?”

“Clarissa sedang menemani mereka di teater.”

“Beruntung sekali kamu berteman dengan peri sebaik Clarissa.”

“Aku sangat senang saat pertama kali bertemu Clarissa di kebun bunga ibuku, waktu aku kecil dulu.”

“Lebih menyenangkan lagi, karena teman-teman Clarissa mau berkunjung ke rumah kita. Dan hobimu nonton drama Korea itu ternyata bermanfaat juga.”

Minah tersenyum. “Ayo kita ke teater. Kita lihat mereka sedang apa.”

Sebuah layar lebar sedang menampilkan adegan demi adegan drama Endless Love yang dibintangi Song Hye Gyo dan Song Seung Hun.

“Jangan lupa, air matanya ditampung ya,” ucap Clarissa pada teman-temannya yang sedang menonton.

Joko menarik tangan istrinya. “Ayo jangan ganggu mereka. Setelah ini, apa lagi?”

“Aku sudah menyiapkan satu judul, Stairway to Heaven.”

“Sedih juga?”

“Banget.”

Joko membayangkan akan semakin banyak mendapatkan bahan baku air mata peri.

______

Ditulis untuk MFF


TAGS flashfiction Monday Flash Fiction peri


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post