• 8

    Jun

    Prompt #15: Arum

    Bingkai berisi senyum seorang gadis dengan pipi yang bersemu merah, bergetar halus saat pintu membuka. “Orang puskesmas sudah datang ya, Rum?” Wak Minah masuk ke rumah dengan menenteng sebuah kantong plastik berisi sayuran. “Belum, Mak.” Arum perlahan beringsut ke dapur. “Eh, kamu mau kemana?” “Bantuin emak masak…” “Tidak usah. Kamu tunggu petugas puskesmas saja.” Wak Minah menghalau Arum ke ruang tengah. “Urusan masak sih gampang.” Arum kembali merebahkan diri di sofa usang. Matanya menjelajah ruang sempit rumah orang tuanya. Entah sudah berapa tahun usia rumah kayu itu. Berseberangan dengan sofa yang ditidurinya, ada tumpukan kasur alas tidur kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Arum terpaku pada fotonya di di
  • 7

    Jun

    Sekarang Atau Lima Puluh Tahun Lagi

    Perlahan kuusap tubuh kaku seorang perempuan muda. Kutatap sedih bagian perutnya yang membuncit, karena janin di dalamnya turut kehilangan nyawa bersama ibunya. Sisa air mandi di tubuh perempuan itu sudah kering. Lalu perempuan itu dibungkus dalam beberapa helai kain putih yang akan menjadi pakaiannya saat menghadap malaikat Munkar dan Nakir. Seorang lelaki berbadan tegap perlahan jongkok di sampingku. Wajah tampan yang dulu pernah menghias hari-hariku dengan kata-kata indah dalam surat cintanya itu, kini mendekat ke bagian terbuka dari sosok yang telah terbungkus. Ia menciumi wajah perempuan itu, lama. Aku menepuk halus punggung lelaki itu, menguatkan karena ia kehilangan istri dan anak sekaligus. Meski angka sepuluh dan nama Bhirawa tercetak di bagian punggung kaos bola yang dikenakanny
  • 31

    May

    Nol

    Itu kamu. Aku tau itu kamu. Bayangmu tertangkap lensa kameraku. Dari jarak sekian meter, aku masih mengenali sosokmu. Di antara hiruk-pikuk pejalan kaki yang melintasi kawasan nol kilometer Jogja, kamu tetap terlihat menonjol. Kubidikkan lagi kamera dan mengatur zoom agar dapat melihatmu dengan lebih jelas, meski hanya melalui celah sempit lubang intip kameraku. Cekrek! Seorang lelaki berkulit sawo matang dengan rambut keriting panjang terikat, sudah tertangkap di layar display kamera. Mata telanjangku beralih ke kamu. Aargh, apa ini yang menggenang di pelupuk mataku? “Kamu nangis, Chi?” ucapmu sesaat sebelum lenganmu merengkuhku, dulu. “Nggak, Mas,” isakku di bahumu. “Kamu jangan takut. Kita akan bertahan.” Brakkk. Tiba-tiba pintu kamar kos temanmu d
  • 27

    May

    Prompt #14 : Desa di Kaki Gunung

    “Jangan, Ayaaah!” Mila berusaha berontak dari dua pasang tangan kekar yang menahannya. Tuan Smith yang sedang berdiri di atas panggung tak bergeming. Bibirnya terkatup rapat di bawah kumis lebat yang memutih. Perlahan kepalanya mengangguk memberi tanda. “Ayaaah, jangan bunuh suamiku!” Akhirnya Mila mampu terlepas dari kekangan. Dengan langkah yang tenggelam di salju, ia berusaha berlari menaiki panggung dan tiba di atas saat sudah terlambat. “Tidaaak.” Mila histeris saat melihat kepala suaminya yang terjatuh ke lantai panggung. Darah mengalir deras dan menciprati sekitar pangggung. “Bawa dia pulang!” ucap Tuan Smith kepada dua orang yang sebelumnya mengekang Mila. “Suamiku… suamiku…” ratap Mila. Setengah diseret Mila
  • 26

    Apr

    Prompt #10: Fantastic Game

    Hujan baru turun beberapa jam di Kota Satra, namun jalan raya sudah berubah serupa lautan. Ibu kota Kerajaan Butra itu terkenal dengan saluran air yang buruk. Shioban melihat ada banyak orang yang berdiri di tepi jalan sambil masing-masing memegang kartu Fantastic Game di tangan mereka. Sebagian bahkan ada yang terlihat kesal sambil menggigiti tepi kartu hingga keriting. Aneka kendaraan berserakan di sana-sini. Harley Davidson yang hanya terlihat setangnya saja. Mercy single cabin pun hanya tersisa atapnya. Selebihnya tenggelam dalam air. Shioban ingin pulang. Barang yang diperlukannya sudah didapat. Ia bersyukur bisa berteduh di tepi jalan, tak jauh dari sebuah bilik Fantastic Game yang sedang kosong. Dengan sebuah bungkusan di tangan, ia lalu masuk ke dalam bilik. Shioban mengeluarkan k
  • 21

    Apr

    [Berani Cerita #8] Guardian Angel

    Tya menyesap teh hijaunya perlahan. Warna merah lipstiknya membekas tipis di tepi cangkir. Ia melirik segelas es teh yang sama sekali belum tersentuh di seberangnya. “Aku suka koran hari Minggu,” ucap Aldo, pemilik gelas es teh itu. Sebuah koran terbentang di depannya. “Iya, Sayang. Karena banyak hiburannya kan?” “Aku suka mengisi TTS,” sahut Aldo. Perlahan tangan Aldo melepas pulpen, lalu menyentuh gelasnya. Lirikan Tya mengikuti gerakan itu. Ia berdo’a dalam hati. “Ah, iya. Tanda plat nomor kendaraan daerah Kalimantan Timur itu KT kan, Tya?” dengan ceria Aldo mengambil kembali pulpennya dan mencoretkan huruf-huruf ke dalam kotak-kotak TTS. Tya merutuk samar. “Ada kesulitan, Sayang?” Tya menawarkan bantuan. “Su
  • 22

    Dec

    [postcardfiction] Dinding

    “Aku hanya ingin menjual sebagian rumah ini, Ton,” tegas Retno pada adiknya, Toni. “Mbak sudah gila! Keluargaku dan keluargamu masih tinggal bersama di rumah mungil peninggalan orang tua kita ini, tetapi Mbak mau menjual sebagiannya?” suara Toni menggelegar. “Kamu jangan lupa, sebagian rumah ini adalah hakku juga! Itu terserah padaku, apakah ingin menjualnya atau tidak,” ucap Retno kukuh. Tak ada jalan lain, ia harus menjual rumah bagiannya untuk membayar utang judi suaminya. “Baik! Mbak yang berencana menjual sebagian rumah ini, bukan aku. Artinya Mbak harus terima pembagian yang kutetapkan. Aku memilih bagian depan dan Mbak di belakang.” Toni lalu bergegas. Selama beberapa jam ia sibuk dengan berbagai peralatan. “Bu, rumah kita kena
  • 17

    Feb

    Jangan Monoton, Kata Si Abang

    Suatu sore yang indah, Neng duduk di ayunan yang ada di teras rumahnya. Tak jauh darinya, duduklah abangnya. Neng terkadang suka berbincang-bincang dengan abangnya yang sudah banyak mengecap asam dan garam kehidupan. Sore itu wajah Neng murung. Si Abang yang melihat pemandangan itu heran. “Kok murung, Neng? Ada apa?” “Hmm… Bang, gimana sih caranya supaya nggak bosan sama pasangan?” “Oo… Kamu mulai dilanda bosan ya?” Abang menggodanya. “Yah, Si Abang… Ditanya malah balik nanya,” Neng manyun. “Baiklah, Abang akan jawab pertanyaanmu. Mudah saja cara supaya tidak bosan.” Neng memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan penjelasan Abangnya. “Abang sudah lama berumah tangga, tapi tidak pernah bosan.
  • 15

    Feb

    Ruang Hati

    Gambar dari sini Semangkuk soto Banjar sudah berpindah ke perutku. Kami baru saja merayakan promosi Mas Teguh di warung soto Banjar . “Bunda, ayah ambil mobil dulu,” kemudian Mas teguh bergegas menuju mobil kami yang terparkir agak jauh. “Iya, Yah,” perlahan aku menuntun Azzam menuju tepi jalan raya untuk menunggu ayahnya. Jilbabku melambai perlahan karena tertiup angin. Kugenggam erat tangan Azzam yang belum genap berusia 3 tahun. Waktu Kota Samarinda belum menunjukkan pukul sepuluh malam, namun jalan ini sudah mulai sepi. Kupandangi bangunan di samping warung soto. Aku sangat mengenalinya, Paradise Club. Kerlap-kerlip lampu di depan bangunan itu sudah mencirikan apa isinya. Beberapa perempuan berbusana minim, berdiri di sekitar parkiran. Mereka mirip denganku, b
  • 27

    Jan

    [15HariNgeblogFF] Sah!

    Sah! Sah! Seisi ruangan kemudian kompak mengucap kata barokallah. Indah mengucap syukur dari balik tirai tipis. Teman-temannya yang sejak awal menemaninya mengucapkan selamat kepada Indah. Dengan terdengarnya kata sah, mimpi Indah tentang rumah tangga bahagiapun resmi dimulai. Indah kemudian diantar untuk bertemu lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Lelaki itu, meskipun sedikit gugup, namun ia tampak jauh lebih tampan dibanding biasanya. Untuk pertama kalinya Indah duduk sangat dekat dengan Dirga, lelaki tampan yang telah berani menghadap kedua orang tuanya sebulan yang lalu untuk meminangnya. (sumber) Betapa bahagianya Indah karena Allah telah memberinya seorang suami yang sangat baik, menghormati istri dan mau bekerja sama dalam membina rumah tangga. Setelah anak pertama mereka lahi

Author

Follow Me

Search

Recent Post