Januari 20th, 2012, posted in Fiksi
“Hei, jauh-jauh dong. Kamu bau!” Anna mengernyit sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.
“Biarin!” Aku kemudian menjauhinya.
Bila mengingat ucapan Anna, hatiku merasa sakit. Memangnya aku kambing? Huh! Padahal kami sudah berteman sejak SMA. Hingga kami kuliah di jurusan yang sama, ia masih saja berkata kasar padaku.
Januari 19th, 2012, posted in Fiksi
Kulihat sekelilingku, seluruh peserta lomba masak berskala nasional sudah berada pada posisi masing-masing. Nama dan nomor peserta mereka tersemat di dada. Aku memandang papan nama di dadaku, Arifin, dengan nomor 7, nomor keberuntungan. Aku harus berhasil. Aku akan membuktikan pada penghianat itu, aku bisa menjadi juara.
Januari 18th, 2012, posted in Fiksi
Ruang tamu penuh dengan orang. Semuanya laki-laki. Kuintip dari jendela, hampir setiap sudut halaman yang luas juga banyak laki-laki. Aku heran mengapa mereka berdatangan. Padahal di rumah tidak ada acara. Sejak dua bulan yang lalu rumah selalu sepi. Sepeninggal ayah dan ibuku, jarang ada tamu yang datang.
Januari 18th, 2012, posted in Uncategorized
Kota Samarinda benar-benar penuh duri sejak BUlan DEsember lalu. Selain lokasi penjual durian yang telah dikhususkan, yaitu di kawasan Kelurahan Karang Asam, ruas-ruas jalan lain juga dipenuhi penjual durian. Durian yang dijual ada yang berasal dari luar kota, biasanya dari daerah Melak (Kab. Kutai Barat), tak sedikit pula durian lokal Samarinda.
Januari 17th, 2012, posted in unforgetable moments
Tak jarang pikiranku mengembara ke masa-masa aku mengalami kecelakaan lalu lintas lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Suatu ketika aku terbaring lemah di salah satu ruangan rumah sakit, usai menjalani operasi pemasangan plat pada tulang-tulang kaki kiriku yang patah, yaitu tulang paha dan tulang betis. Kaki kiriku dibebat dengan perban elastis berwarna coklat, dari pangkal paha hingga ke mata kaki.