• 18

    Dec

    Restu Dari Emak

    Ya, aku pernah bandel Tanpa restu emak, nekad bepergian Hasilnya, patah tulang! Ya, aku duduk lama di depan laptop Emak meradang! Hingga tiba sebuah iPod Touch hadiah lomba nulis Emak sumringah Mohon doa restu ya, Mak Insya Allah aku lama di depan laptop, bukan untuk hal sia-sia Mari kita pose dulu pake iPod baru, Mak. Senyum!
  • 13

    Sep

    Tentang Emak

    Tiada pikiran bodoh sebodoh diriku. Bodoh karena aku telah mengabaikan sebentuk cinta yang begitu besar, cinta emak. Cinta yang terkucur bukan hanya dalam satu kurun waktu, namun sepanjang hidupku. Sekian puluh tahun hidupku selalu dalam lautan cinta emak. Menikmati air susu hingga 4 tahun usiaku. Memaksa beliau menunda menyelesaikan tugas rumah, hanya demi memenuhi keinginanku. Usapan lembut rambut emak menenangkanku tatkala aku menangis meraung-raung karena kepalaku benjol tertabrak pintu. Namun betapa naifnya aku karena mengabaikan emak tatkala beliau tertusuk duri dan sedang kesakitan. Aku entah dimana tak datang menengok. Sekian tahun aku disekolahkan. Mengharap aku bisa menjadi seorang perawat yang bermanfaat bagi umat. Bahkan sebelum aku bisa bermanfaat, emak lagi-lagi berperan se
  • 28

    Aug

    Emak, Guru Matematika Terhebat

    Emak adalah seorang penyampai cerita terbaik. Sejak aku kecil, tak terkira sudah berapa banyak cerita yang keluar dari mulut beliau, untuk disampaikan padaku dan saudara-saudaraku. Dongeng kancil yang suka mencuri ketimun sering terdengar di balik kelambu yang terpasang di gubuk kami. Belum lagi cerita tentang Si Budi yang memiliki pisang goreng, sebagai pelajaran dini untukku, yang ceritanya pisang goreng itu bertambah, berkurang atau dibagi. Emak memperagakan jumlah pisang goreng dengan jemari beliau. Bayangan tangan emak yang terpantul ke dinding dan bergoyang-goyang seiring irama lampu teplok yang tertiup angin. Emak menjadi guru matematikaku yang pertama. Cerita emak terus mengalir dalam setiap babak kehidupan keluarga kami. Meja makan menjadi panggung, podium, bagi emak untuk berbag
  • 21

    Aug

    Mengirim Kabar Lewat Surat

    credit Jaman sudah berubah. Berbagai kemudahan telah tercipta untuk kehidupan manusia. Bila rindu terhadap sanak saudara, kita hanya butuh menekan beberapa tombol, maka suara mereka bisa langsung kita dengar dan kita bisa langsung bercengkerama, bahkan bisa saling bertatap muka lewat tekhnologi video call. Dunia internet yang semakin mengglobal juga turut andil dalam kemudahan itu. Di tengah kemudahan dan kemajuan itu, aku teringat suatu hal. Dulu dalam keluargaku terdapat kebiasaan saling berkirim surat. Emak yang mengiringi abah pergi merantau dari kampung halaman puluhan tahun yang lalu, namun beliau tetap berusaha berkirim kabar. Entah itu berita suka maupun duka, emak kerap membaginya dengan keluarga yang tertinggal. Emak ingin keluarga tetap tahu kondisi beliau di perantauan, dan em
  • 18

    Sep

    Suatu Senja di Musim yang Lalu

    Bila diminta menggambarkan tentang sebuah kenangan, biasanya benak seseorang akan melompat-lompat menyusuri titik-titik lini masa hingga berhenti ke masa tempat kenangan itu berada.  Titik-titik itu bisa jadi merupakan masa yang ‘paling’ bagi orang itu, sehingga lebih mudah diingat. Mungkin saja saat itu terjadi hal yang paling menyedihkan, membahagiakan atau inspiratif. Bagiku, salah satu titik itu adalah saat merayakan Idul Fitri. Bagi setiap muslim, tentu memiliki kenangan indah saat Idul Fitri. Aku dan emak kerap berbincang tentang bagaimana lebaran kami di masa lalu, saat aku masih kecil. Mengenang-ngenang hal itu kadang membuat kami tersenyum. Beban hidup terasa lebih ringan, meskipun kami tidak memiliki banyak uang. Betapa indahnya di masa-masa itu, meski
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post