• 4

    Mar

    #FFRabu - Under Water

    “Aku tak bisa berenang, Mas.” “Aku akan memegangimu, Sayang. Kamu hanya perlu bernapas lewat mulut dan nikmati keindahan di bawah sana.” Tina pun mencebur. Perlahan ia mulai terbiasa dengan masker oksigennya. Gelembung-gelembung udara keluar seirama napas. Ia membuat lingkaran dengan jempol dan telunjuk tangan kanan yang berarti oke. Rupanya Tina mengingat pelajaran singkat menyelam yang kuberikan. Aku membalas gerakannya. Aku mulai menghitung sambil menunggu. “Mas….” Tina menyentak tanganku. Aku membuka mata. Tina menarikku terbang menuju kawanan malaikat. “Kita tidak perlu masker oksigen lagi, Mas.” Sial, rupanya bukan hanya peralatan menyelam yang dipakai Tina yang diakali Joni, ternyata yang kupakai juga. (sumber gambar:http
  • 6

    Feb

    Prompt #37: Air Mata Peri

    “Ini adalah penemuan besar yang dapat bermanfaat bagi umat manusia. Sekian dan terima kasih.” Auditorium itu dipenuhi gemuruh tepuk tangan. Seluruh hadirin berdiri memberi penghormatan pada Joko. “Bagaimana cara Bapak melakukannya?” “Sudah saya paparkan saat presentasi dalam gedung tadi,” dengan senyuman Joko menatap para wartawan yang mengerubunginya. “Bapak yakin tak melakukan hal yang menyakitkan untuk mendapatkan bahan baku? Manusia saja terkadang harus disakiti baru bisa menangis.” “Seratus persen cara yang saya lakukan sangat ilmiah.” “Benarkah air mata peri bisa menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan AIDS?” “Bahkan AIDS! Saya sudah melakukan riset selama bertahun-tahun.” “Bagaimana dengan har
  • 25

    Jan

    [Pesta FlashFiction] 25 Januari

    “Dua puluh lima Januari?” “Iya.” “Berarti minggu depan ya?” Bimo menatap lekat sebuah undangan berwarna merah jambu. “Hmm … bisa nggak ya ….” “Kamu harus datang, Bim.” “Iya, iya. Aku akan usahakan datang dan berdoa yang terbaik untuk calon mempelai.” “Ajak Tina juga.” “Pasti dong, Frisa. Kalau pergi kondangan tanpa istri, apa kata dunia.” “Tumben banget. Biasanya istri disimpan di rumah saja.” “Bukan begitu. Istriku itu orang rumahan banget. Biasanya dia merasa kurang nyaman di keramaian. Tapi, demi hajatan sahabatku tersayang ini, aku akan merayu istriku agar mau datang.” “Gitu, dong. Awas ya kalau kamu nggak datang. Aku nggak mau kenal kamu lagi!̶
  • 19

    Nov

    Hantaran

    (Sebuah #FF100Kata yang gagal didaftarkan, gegara telat :D ) Hampir setiap pasang mata terpaku pada hantaran di tegah ruangan. Sepasang lingerie merah begitu mencolok dalam sebuah keranjang rotan yang dikemas cantik. “Selera Tiwi boleh juga. Merah.” “Selera Anton, kalik.” Bisik-bisik terus menggema hingga jelang prosesi akad nikah. Tiwi dan Anton akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri. Malam harinya, pada sebuah kamar, tali-temali berusaha dipasang. “Ternyata kamu liar, Sayang.” “Lingerie merah adalah impianku. Lihat, pas dengan ukuranku, 36C.” Tiba-tiba pintu diketuk. “Mah!” teriak Tiwi dari luar. “Lihat hantaran Tiwi yang isinya pakaian dalam warna merah, nggak?” Papah dan Mamah Tiwi saling pandang, lalu memben
  • 12

    Oct

    Prompt #29: 27 Maret

    Lelaki tua itu memandangi rak buku bagian politik. Dia masuk sesaat setelah pintu toko baru kubuka, dan sudah lebih dari satu jam dia berdiri di sana. Posisinya menghalangiku untuk membersihkan debu pada rak itu. Aku kembali ke meja kasir. Tanganku menyentuh kalender meja yang menunjukkan tanggal hari ini, 27 Maret 2011, hari Minggu pertama sejak bosku memutuskan untuk tetap membuka toko buku di hari bertanggal merah itu. Brukk! Setumpuk buku ditaruh di depanku. “Ini … semua, Pak?” tanyaku. “Iya,” sahutnya singkat. Tak kurang dari lima judul buku dengan masing-masing judul terdiri dari beberapa buku. Satu persatu aku memindai barcode buku itu. “Saya tidak mau negara ini dibodohi oleh masa lalu!” ucap lelaki itu tiba-tiba. Suaranya memenuhi seisi
  • 17

    Jun

    Prompt #17: Soemar Bakri

    Soemardi memacu sepeda motor meninggalkan rumahnya. Awan hitam karbon monoksida berhamburan dari knalpot tua itu. Hari ini adalah penentuan baginya. Surat panggilan dari Balai Kota yang diterimanya kemarin, membuat ia dan istrinya berbunga-bunga. “Alhamdulillah,” ucap Tutik, istri Soemardi. “Akhirnya, setelah belasan tahun mengabdi ya, Pak.” “Yang penting selalu ikhlas dalam mengajar, Bu,” sahut Soemardi. “Nanti kita bisa ngambil cicilan rumah, Pak,” khayal Tutik semalam, diiringi oleh derai tawa Soemardi. Di sepanjang jalan, senyum Soemardi tak henti-hentinya mengembang di balik kaca helmnya. Setelah statusnya berubah, maka ia akan mendapat hak yang sama seperti rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu menjadi pegawai negeri. Sambil bersen
  • 11

    Jun

    [BeraniCerita #15] Veronica

    Aku tak mengerti, mengapa kamu lebih memilih dipanggil Roni. “Karena aku berbeda. Aku lebih tangguh dari siapapun,” ucapmu di tujuh belasmu. Ya, kamu memang berbeda, dibanding Rina. “Kamu akan selalu bertemu denganku,” janjimu. ***** Terhitung tahun kamu bersikukuh mengekori perjalananku, sementara aku sama sekali tak inginkan dirimu. Kamu muncul di antara peserta saat aku menjadi pembicara di sebuah seminar di Padang. Waktu aku liburan ke Bali, aku menemukan wajah cantikmu sedang berfoto dengan latar belakang patung Garuda Whisnu Kenchana. Aku tak heran saat melihatmu memeluk Shahruk Khan di Museum Madam Tussaud. Kamu mengejarku sampai ke Hongkong. “Masih belum lelah, Ron?” tanyaku pada suatu senja di bawah Menara Kembar Petronas. “Tidakka
  • 8

    Jun

    Prompt #15: Arum

    Bingkai berisi senyum seorang gadis dengan pipi yang bersemu merah, bergetar halus saat pintu membuka. “Orang puskesmas sudah datang ya, Rum?” Wak Minah masuk ke rumah dengan menenteng sebuah kantong plastik berisi sayuran. “Belum, Mak.” Arum perlahan beringsut ke dapur. “Eh, kamu mau kemana?” “Bantuin emak masak…” “Tidak usah. Kamu tunggu petugas puskesmas saja.” Wak Minah menghalau Arum ke ruang tengah. “Urusan masak sih gampang.” Arum kembali merebahkan diri di sofa usang. Matanya menjelajah ruang sempit rumah orang tuanya. Entah sudah berapa tahun usia rumah kayu itu. Berseberangan dengan sofa yang ditidurinya, ada tumpukan kasur alas tidur kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Arum terpaku pada fotonya di di
  • 7

    Jun

    Sekarang Atau Lima Puluh Tahun Lagi

    Perlahan kuusap tubuh kaku seorang perempuan muda. Kutatap sedih bagian perutnya yang membuncit, karena janin di dalamnya turut kehilangan nyawa bersama ibunya. Sisa air mandi di tubuh perempuan itu sudah kering. Lalu perempuan itu dibungkus dalam beberapa helai kain putih yang akan menjadi pakaiannya saat menghadap malaikat Munkar dan Nakir. Seorang lelaki berbadan tegap perlahan jongkok di sampingku. Wajah tampan yang dulu pernah menghias hari-hariku dengan kata-kata indah dalam surat cintanya itu, kini mendekat ke bagian terbuka dari sosok yang telah terbungkus. Ia menciumi wajah perempuan itu, lama. Aku menepuk halus punggung lelaki itu, menguatkan karena ia kehilangan istri dan anak sekaligus. Meski angka sepuluh dan nama Bhirawa tercetak di bagian punggung kaos bola yang dikenakanny
  • 31

    May

    Nol

    Itu kamu. Aku tau itu kamu. Bayangmu tertangkap lensa kameraku. Dari jarak sekian meter, aku masih mengenali sosokmu. Di antara hiruk-pikuk pejalan kaki yang melintasi kawasan nol kilometer Jogja, kamu tetap terlihat menonjol. Kubidikkan lagi kamera dan mengatur zoom agar dapat melihatmu dengan lebih jelas, meski hanya melalui celah sempit lubang intip kameraku. Cekrek! Seorang lelaki berkulit sawo matang dengan rambut keriting panjang terikat, sudah tertangkap di layar display kamera. Mata telanjangku beralih ke kamu. Aargh, apa ini yang menggenang di pelupuk mataku? “Kamu nangis, Chi?” ucapmu sesaat sebelum lenganmu merengkuhku, dulu. “Nggak, Mas,” isakku di bahumu. “Kamu jangan takut. Kita akan bertahan.” Brakkk. Tiba-tiba pintu kamar kos temanmu d
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post