• 4

    May

    [Quiz MFF #4] Kegundahan Mimi

    Sketsa oleh Betty Sanjaya Asap bakaran ikan menyeruak dari dapur Emak. Aromanya terbawa angin hingga terhirup oleh hidung mungil Mimi, namun dia tetap bergeming. Gerakan ayunan ban yang dinaikinya sudah terhenti sejak tadi. Keteduhan pohon ketapang di mana ayunan itu terikat, menaungi wajah Mimi, menambah kesenduannya Minggu siang itu. “Mimi ….” Mimi mendongak dan melihat emaknya sudah berdiri di depannya. “Emak panggil kamu dari tadi.” “Oh, maaf, Mak. Mimi nggak dengar.” “Sudah hampir azan dzuhur. Abahmu sudah ke masjid dari tadi. Ayo, masuk. Kita siap-siap sholat,” ucap Emak sambil mengulurkan tangan. Mimi merosot turun dari ban dan menyambut uluran tangan emaknya. “Setelah abah pulang dari masjid, nanti kita makan ikan bakar k
  • 6

    Feb

    Prompt #37: Air Mata Peri

    “Ini adalah penemuan besar yang dapat bermanfaat bagi umat manusia. Sekian dan terima kasih.” Auditorium itu dipenuhi gemuruh tepuk tangan. Seluruh hadirin berdiri memberi penghormatan pada Joko. “Bagaimana cara Bapak melakukannya?” “Sudah saya paparkan saat presentasi dalam gedung tadi,” dengan senyuman Joko menatap para wartawan yang mengerubunginya. “Bapak yakin tak melakukan hal yang menyakitkan untuk mendapatkan bahan baku? Manusia saja terkadang harus disakiti baru bisa menangis.” “Seratus persen cara yang saya lakukan sangat ilmiah.” “Benarkah air mata peri bisa menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan AIDS?” “Bahkan AIDS! Saya sudah melakukan riset selama bertahun-tahun.” “Bagaimana dengan har
  • 25

    Jan

    [Pesta FlashFiction] 25 Januari

    “Dua puluh lima Januari?” “Iya.” “Berarti minggu depan ya?” Bimo menatap lekat sebuah undangan berwarna merah jambu. “Hmm … bisa nggak ya ….” “Kamu harus datang, Bim.” “Iya, iya. Aku akan usahakan datang dan berdoa yang terbaik untuk calon mempelai.” “Ajak Tina juga.” “Pasti dong, Frisa. Kalau pergi kondangan tanpa istri, apa kata dunia.” “Tumben banget. Biasanya istri disimpan di rumah saja.” “Bukan begitu. Istriku itu orang rumahan banget. Biasanya dia merasa kurang nyaman di keramaian. Tapi, demi hajatan sahabatku tersayang ini, aku akan merayu istriku agar mau datang.” “Gitu, dong. Awas ya kalau kamu nggak datang. Aku nggak mau kenal kamu lagi!̶
  • 12

    Oct

    Prompt #29: 27 Maret

    Lelaki tua itu memandangi rak buku bagian politik. Dia masuk sesaat setelah pintu toko baru kubuka, dan sudah lebih dari satu jam dia berdiri di sana. Posisinya menghalangiku untuk membersihkan debu pada rak itu. Aku kembali ke meja kasir. Tanganku menyentuh kalender meja yang menunjukkan tanggal hari ini, 27 Maret 2011, hari Minggu pertama sejak bosku memutuskan untuk tetap membuka toko buku di hari bertanggal merah itu. Brukk! Setumpuk buku ditaruh di depanku. “Ini … semua, Pak?” tanyaku. “Iya,” sahutnya singkat. Tak kurang dari lima judul buku dengan masing-masing judul terdiri dari beberapa buku. Satu persatu aku memindai barcode buku itu. “Saya tidak mau negara ini dibodohi oleh masa lalu!” ucap lelaki itu tiba-tiba. Suaranya memenuhi seisi
  • 17

    Jun

    Prompt #17: Soemar Bakri

    Soemardi memacu sepeda motor meninggalkan rumahnya. Awan hitam karbon monoksida berhamburan dari knalpot tua itu. Hari ini adalah penentuan baginya. Surat panggilan dari Balai Kota yang diterimanya kemarin, membuat ia dan istrinya berbunga-bunga. “Alhamdulillah,” ucap Tutik, istri Soemardi. “Akhirnya, setelah belasan tahun mengabdi ya, Pak.” “Yang penting selalu ikhlas dalam mengajar, Bu,” sahut Soemardi. “Nanti kita bisa ngambil cicilan rumah, Pak,” khayal Tutik semalam, diiringi oleh derai tawa Soemardi. Di sepanjang jalan, senyum Soemardi tak henti-hentinya mengembang di balik kaca helmnya. Setelah statusnya berubah, maka ia akan mendapat hak yang sama seperti rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu menjadi pegawai negeri. Sambil bersen
  • 26

    Apr

    Prompt #10: Fantastic Game

    Hujan baru turun beberapa jam di Kota Satra, namun jalan raya sudah berubah serupa lautan. Ibu kota Kerajaan Butra itu terkenal dengan saluran air yang buruk. Shioban melihat ada banyak orang yang berdiri di tepi jalan sambil masing-masing memegang kartu Fantastic Game di tangan mereka. Sebagian bahkan ada yang terlihat kesal sambil menggigiti tepi kartu hingga keriting. Aneka kendaraan berserakan di sana-sini. Harley Davidson yang hanya terlihat setangnya saja. Mercy single cabin pun hanya tersisa atapnya. Selebihnya tenggelam dalam air. Shioban ingin pulang. Barang yang diperlukannya sudah didapat. Ia bersyukur bisa berteduh di tepi jalan, tak jauh dari sebuah bilik Fantastic Game yang sedang kosong. Dengan sebuah bungkusan di tangan, ia lalu masuk ke dalam bilik. Shioban mengeluarkan k
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post